Wisata Norak Versus Wisata Eco-Friendly PART 1 Hiu Paus

Samarinda, 30 September 2016.         

           Hai guys! … kali ini saya ingin menulis tentang hubungan pariwisata dengan kelestarian objek wisata. Tulisan ini adalah sebagai bentuk keprihatinan saya kepada kegiatan pariwisata yang dapat menimbulkan kerusakan ekosistem terumbu karang yang rapuh.  Saya bukan siapa-siapa sih sebenarnya, hanya seorang traveller yang suka mengikuti isu pelestarian lingkungan. Dari mengikuti website, blog, akun social media dari badan penyelamat lingkungan baik nasional maupun swasta, badan otoritas pemerintahan, chanel tv animal planet dan national geographic serta buku-buku pengetahuan, semua saya baca dan pahami. Dari situlah timbul kesadaran ingin ikut menyuarakan gerakan pelestarian alam, tentunya dimulai dari diri saya sendiri kemudian saya mengajak teman-temen travelling serta pembaca setia blog saya, ciyekhhhhh….. kek punya secret admirer and reader ajaaah hahahaha *laugh out loud on the top of the Lonely Mountain.
         Ide tulisan ini muncul setelah beberapa waktu lalu saya mengalami insiden dengan beberapa orang yang menurut saya melakukan perbuatan tidak pantas kepada binatang dan terumbu karang langka yang keberadaannya dilindungi oleh undang-undang Pemerintah Indonesia.  Sungguh sangat memprihatinkan karena yang melakukannya sebagian besar oleh orang yang seharusnya dituntut untuk memiliki pengetahuan dan memberikan contoh interaksi yang baik serta bertanggung jawab mengawasi kegiatan wisata agar tidak melakukan tindakan merusak lingkungan. Sangat disayangkan malah pihak tersebut yang dengan sengaja mengarahkan dan melakukan tindakan mengganggu binatang dan vandalism terhadap terumbu karang.
Sebut saja mereka Operator Tur dan Tour Guide. Udah cukup lumrah mereka mengajak wisatawan untuk berinteraksi dengan cara yang salah terhadap binatang dan terumbu karang. Semua itu demi foto yang keren ketika liburan bersama tour trip mereka. Semakin bagus, semakin keren, semakin banyak mengundang decak kagum dan komen iri dari banyak orang maka semakin bagus dan menaikkan pamor agen trip mereka. Begitu foto mereka di upload ke social media, dengan kata-kata rekomendasi peserta tripnya sungguh menggugah minat calon wisatawan yang juga ingin menikmati sensasi liburan seperti mereka. 
Padahal tindakan wisatawan yang dapat merusak keseimbangan ekosistem dapat dicegah jika Operator tour dan Tour Guide mengadakan Briefing sebelum melakukan kegiatan snorkling atau hopping island. Mereka bisa memberitahu kepada wisatawan cara yang baik untuk berinteraksi dan memberikan penjelasan mengapa hal-hal tersebut tidak boleh dilakukan. tapi kebanyakan kegiatan briefing ini tidak dilakukan, oleh karena itu wisatawan banyak mengabadikan foto wisata yang akan mengundang kontroversi karena ketidaktahuan mereka untuk berinteraksi yang baik dan anggapan bahwa tour guide mereka membolehkan.
Jika foto tersebut dilihat oleh orang yang mengetahui cara berinteraksi yang benar dengan binatang laut & terumbu karang, maka kritikan pun dilayangkan kepada si empunya foto. Jika si pemilik foto memahami bahwa tindakannya salah didalam foto tersebut dan menyadarinya kemudian menghapusnya dari akun social media serta mulai belajar cara berinteraksi yang benar, maka sungguh sangat mulia si pemilik foto tersebut karena mau belajar dari kesalahannya.
Tapi, beberapa kasus foto animal abuse dan coral reef vandalism yang di apload oleh tour guide berakhir ricuh di social media hingga masuk dalam berita online nasional. Hal ini disebabkan karena beberapa orang yang tidak bisa menerima kritikan dengan baik akan menyerang balik kepada orang yang mengkritik. Ini adalah sifat jelek yang seharusnya tidak boleh dimiliki oleh Tour Guide dan Operator Tour. Seharusnya mereka memiliki kesadaran yang tinggi untuk tetap menjaga kelestarian lingkungan tempat mereka mengais rezeki.  Seharusnya mereka sadar bahwa berinteraksi dengan cara yang salah akan mengakibatkan hewan laut stress dan menurun populasinya karena kematian atau bermigrasi ke tempat yang lebih aman dari gangguan manusia. seharusnya mereka sadar bahwa vandalism terhadap terumbu karang seperti tindakan menginjak, mencoret, mematahkan karang akan merusak keindahan karang dan membuat minat wisatawan berkunjung akan berkurang.
                Saya berharap dan berdoa semoga suatu saat nanti akan ada pelatihan dan sertifikasi kepada operator tour dan tour guide yang beroperasi didaerah yang mendapat status taman nasional yang dilindungi. Semoga dengan adanya sertifikasi Operator Tour dan Guide termasuk supir Speed boat maka kerusakan akibat aktivitas wisata di taman nasional yg menjadi objek wisata dapat diminimalisasi. Mereka menjadi pioneer terdepan dalam kegiatan pelestarian alam. Mereka mau berkerja sama dengan pihak pengelola taman nasional atau badan penyelamat lingkungan  untuk bahu membahu menjaga dan mengawasi pelestarian alam. Mereka mau bekerja sama dengan travel blogger dan photographer professional untuk mempromosikan keindahan objek wisata mereka. Mereka mengarahkan wisatawan cara berinteraksi dengan benar terhadap hewan liar dan tidak merusak terumbu karang.
Jika semua tugas diemban dan dilaksanakan dengan ikhlas dan penuh tanggung jawab oleh para Operator tur dan tour guide, maka terciptasi harmonisasi antara alam dan manusia. Trip istimewa yang mereka berikan kepada wisatawan akan menimbulkan kesan yang sangat mendalam. 
Sekarang ini sudah banyak muncul gerakan pariwisata dengan mengajak wisatawan melakukan kegiatan pelestarian alam sambil berwisata atau yang disebut Eco-Tourism. Misalnya kegiatan menanam transplantasi karang  atau menanam bibit pohon bakau atau kegiatan bersih pantai. Kegiatan pariwisata ini sangat baik karena banyak sekali manfaatnya.
Nah dalam tulisan ini saya akan memaparkan beberapa contoh interaksi pelaku wisata yang salah dan yang benar. Hal ini tidak bermaksud untuk menghakimi atau menyebarkan kejelekan pemilik foto yang saya masukkan dalam tulisan ini. Saya hanya menggunakan foto mereka untuk mengedukasi bagaimana cara menghindari interaksi yang salah terhadap binatang liar dan terumbu karang. Jadi niat mengedukasi jangan dianggap tindakan menjelek-jelekkan orang atau suatu daerah wisata ya, karena niat baik lebih sering disalah artikan sebagai serangan bagi orang-orang yang memiliki ketidaktahuan atau sudah tahu tapi tetap arogan.
Mengedukasi disini berarti mengajak orang untuk melakukan tindakan yang melestarikan alam khususnya objek wisata yang didatangi dan pastinya akan menjamin keberlangsungan kegiatan pariwisata dimasa yang akan datang.

Wisata Hiu Paus

           Lokasi wisata Hiu Paus di Indonesia : Batuborani (Gorontalo), Tali sayan & Derawan (kaltim), Probolinggo (Jawa timur), Teluk Cendrawasih (Papua).
Pada tanggal 20 Mei 2013, Kementerian Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia (KKP RI) mengeluarkan status perlindungan penuh terhadap hiu paus melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan (KepMen KP) No. 18 Tahun 2013.

Tips Berinteraksi dengan Hiu Paus

  1. Jaga jarak. Beri ruang untuk hiu paus sejauh 2 m dari badannya dan 3 m dari ekornya bila berenang bersama. Walaupun hiu paus bergerak secara perlahan, tapi sangat berisiko terkena hempasan ekornya atau badannya yang besar.
  2. Sebaiknya jangan menggunakan alat selam atau menyelam di sekitar hiu paus. Pun kalau ada, pastikan hanya dua penyelam dalam satu kelompok. Ini karena hiu paus akan mudah terganggu dengan gelembung udara ketika menyelam.
  3. Mohon antri. Kalau mau snorkeling bersama hiu paus, digilir per kelompok. Satu grup maksimal 6 orang dan satu pemandu. Jadi kalau kamu dan rombongan mau snorkeling, bikin kloter berkali kali ya jangan sekali brek! Kayak Es Cendol!
  4. Kamera buat selfie? Boleeeeh asal matikan flash-nya ya! Kilatan cahaya bisa ganggu hiu pausnya loh
  5. Kalau di dalam air, usahakan setenang mungkin.
  6. Jangan teriak-teriak di dalam air atau nyipratin air bak film India ke hiu paus ya, bakalan mengganggu hiu pausnya.
  7. Ini yang paling penting, jangan memegang dan mengejar hiu paus. Kalau dideketin, usahakan tenang ya.
  8. Ingat, hiu paus adalah satwa liar. Let them wild! Don’t petted!
  9. Berdasarkan saran dari para sinematographer di chanel TV Animal Planet & National Geographic, jaga jarak aman dan jika mereka mendekatimu maka itu adalah bonus.

Berikut tips interaksi aman dengan Hiu Paus :

1.      Peraturan bagi Motoris.

Source : @conservationid
2.      Peraturan bagi penyelam / skin diver / freediver.
Source : @conservationid
3.      Peraturan bagi wisata memberi makan Hiu Paus di Batuborani, Gorontalo.



Berikut ini alasan mengapa kita harus melakukan interaksi yang aman dengan hiu paus :
  1.  Bisa terluka akibat kibasan ekor Hiu Paus. Jika Paus Hiu merasa terganggu, dia akan mengibaskan ekor atau siripnya yang besar ke pengganggunya hingga menimbulkan cedera. Jangan sampai patah tulang deh hingga tak bisa berenang kemudian tenggelam ke dasar lautan yang tak tampak *kemudian hening mencekam.

  2.  Memberi makan hiu paus membuat mereka senang mendekati manusia. Hal ini sangat berbahaya jika hiu paus mendekati kapal nelayan yang ingin mengambil sirip hiu untuk dijual.
  3. Jaga Jarak Aman terhadap Hiu Paus. Hiu paus akan gelisah jika ada gelembung udara dari para penyelam. Sudah ada bukti video salah seorang penyelam di seruduk Hiu Paus ke dalam laut dengan mulutnya. Silahkan saja cari di youtube peristiwa penyerangan seorang diver oleh Hiu Paus di Kwatisore Teluk Cendrawasih Papua. Jadi jaga jarak dengan mulut Hiu Paus sejauh 3 meter. Dengan punggung atas sejauh 3 meter. Dengan sirip ekor sejauh 4 meter. Jadi, jika Hiu Paus memutuskan untuk menyerangmu, kamu masih sempat berdoa, menghitung dosa dan memohon perlindungan kepada Yang Maha Kuasa.
     


DON’T DO!

  1.        Memegang sirip dada Hiu Paus. Jika kamu memanusiakan Hiu Paus, coba bayangkan jika ada orang asing yang memegang pundakmu demi foto konyol, pasti kamu bakal marah, bukan?!


  2.        Jangan Menunggangi Punggung Hiu Paus. Bayangkan saja ada manusia asing minta digendong di punggungmu. Kalo gue sih langsung takasi tabokan mesra pake sendal outdoor gue yang tebelnya 1,5 cm ke wajahnya.




    Mengapa semua keribetan ini kita lakukan demi Hiu Paus? Karena Saat ini ikan hiu paus masuk ke dalam Appendiks II CITES dan juga termasuk kedalam daftar merah IUCN dengan kategori Rentan (Vulnerable). Hiu Paus memiliki rentang umur yang panjang antara 70-100 tahun. Mereka mengalami kedewasaan seksual pada umur 30 tahun. Betinanya dapat menghasilkan 300 embrio dan hanya melahirkan 6 bayi, itu pun belum ditambah dengan resiko dimangsa oleh predator yang lebih besar, tersangkut di jala nelayan hingga kehabisan napas, atau sengaja ditangkap oleh pemburu sirip Hiu, atau sengaja ditangkap hidup-hidup untuk dikirim ke luar negeri dengan tujuan khusus, atau sengaja dikurung di dalam jala apung untuk atraksi wisata. Beruntungnya, Indonesia sudah memiliki peraturan perlindungan Hiu Paus yaitu hiu paus dinyatakan sebagai satwa dilindungi berdasarkan keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan RI Nomor 18/Kepmen-KP/2013 tertanggal 20 Mei 2013, yang artinya segala bentuk eksploitasi terhadap hiu paus, termasuk pemanfaatan bagian-bagian tubuhnya telah dilarang secara hukum. Bagi pihak yang melanggarnya ada ancaman penjara maksimal 6 tahun dan denda maksimal Rp. 1,5 Milyar.  
    Apa manfaat Hiu Paus bagi ekosistem laut? Seperti yang diteliti oleh ilmuwan biologist, ikan ataupun mamalia laut yang berukuran besar menghasilkan pup/kotoran yang sangat banyak yang mengandung zat besi. Zat besi ini bermanfaat sebagai sumber makanan zoo plankton dan fito plankton. Plankton ini merupakan penyangga dasar rantai makanan dilaut. Bagi nelayan, kehadiran Hiu Paus dipercaya sebagai pembawa keberuntungan karena kemunculan Hiu Paus diiringi dengan kehadiran banyak ikan-ikan kecil. Perilaku ini kemungkinan karena tubuh ikan Hiu Paus yang besar dianggap sebagai ancaman bagi ikan yang berukuran lebih kecil, sehingga ikan-ikan kecil banyak berkumpul di belakang tubuh ikan yang menjadi blind spot sehingga mereka tidak dimangsa. Bagi para nelayan dengan kedatangan Hiu Paus yang memberitahukan adanya kerumunan ikan-ikan kecil sangat membuat mereka senang, oleh karena itu terjadi “simbiosis Mutualisme” antara nelayan bagang dengan Hiu Paus. Nelayan bagang memberi sebagian ikan mereka kepada Hiu Paus dan Hiu Paus membawakan keberuntungan kepada nelayan.
    Setelah memahami semua “keribetan” ini, masih kah kalian menganggap ikan yang sering disebut “The Gentle Giant” dengan remeh? saya harap tidak dan Semoga pembaca bisa menghargai dan ikut melestarikan Hiu Paus. jika ada foto di social media yang menampilkan tindakan mengganggu Hiu Paus,  silahkan menegur langsung sang pemilik foto. tegur dengan sopan, namun jika pemilik foto tidak suka dinasehati dan merasa tindakannya didalam foto tersebut sah sah saja, maka silahkan dilaporkan ke badan atau lembaga pemerhati lingkungan seperti BKSD stempat, BPSPL, WWF Indonesia, Profauna, atau Aktivis penyelamat lingkungan. biar si pemilik foto mendapat sanksi sosial dan ada efek jera.



    Saya harapkan kritik dan saran kepada pembaca artikel yang memiliki pengetahuan lebih banyak dari yang saya ketahui. mohon maaf bagi pemilik foto yang saya pakai di artikel ini, saya tidak menggunakannya untuk mendapatkan keuntungan materi, hanya bermaksud untuk mengedukasi para wisatawan agar lebih termotivasi untuk melakukan tindakan pelestarian alam terutama di lokasi objek wisata di seluruh daerah Indonesia.

    So… the next topic is all about Sea Turtle. Please enjoy it!

Komentar

  1. keren mpok, keren, terimakasih sudah mengingatkan soal dosa itu, hehehe

    BalasHapus
    Balasan
    1. yuhuu, makasih sudah membaca artikelnya, belum terhitung dosa kalo kita sama-sama belum tahu, kalo udah tahu tapi tetep ngeyel nah itu :D sebenarnya ini artikel dibuat karena teman-teman yg udah melihat hiu paus Derawan, mereka greget karena ga ada pengaturan cara berinteraksi yg aman sama Hiu Paus, teman bilang udah kayak es cendol aja, makanya langsung terinspirasi nulis artikel ini. aku aja belum pernah ketemu Hiu Paus langsung.

      Hapus

Posting Komentar

Postingan populer dari blog ini

Rute menuju Kepulauan Balabalagan

Trip SATEBO (Samarinda-Tenggarong-Bontang)